Bali Promotion Center

Bali Promotion Center
Bali Promotion Center Media Promosi Online

November 26, 2010

BP Kemenbudpar Sodorkan Konsep MoU Kereta Api WisataDenpasar (Bali Post) -

27 Nopember 2010
BP Kemenbudpar Sodorkan Konsep MoU Kereta Api WisataDenpasar (Bali Post) -

Dirjen Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Firmasyah Rahim mewakili Menbudpar Jro Wacik menyodorkan konsep nota kesepahaman bersama (MoU) kerja sama antara Kemenbudpar, Kementerian Perhubungan RI, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemprov Bali untuk melakukan segala hal yang diperlukan untuk mengimplementasikan moda transportasi kereta api.

Dalam konsep MoU tersebut diuraikan dasar pemikiran, dasar pertimbangan, serta siapa melakukan apa, bila mana dan di mana, termasuk standar operasional dan prosedur (SOP). Pemda Bali misalnya, dirancang untuk melakukan sosialisasi, penataan ruang serta pembebasan lahan, PT KAI melakukan studi kelayakan, menyusun business plan, master plan, pembangunan dan mengoperasikan kereta. Sedangkan Kemenbudpar mengembangkan destinasi wisata yang dilalui kereta api seperti penataan pasar dan objek wisata lainnya. MoU ini diharapkan bisa ditandatangani pada minggu pertama Desember 2010 di Jakarta.

''Implementasi pemikiran lama itu sudah saatnya kita lakukan. Satu catatan yang perlu saya garis bawahi, moda kereta api ini bukan untuk transportasi umum, tetapi khusus untuk transportasi wisata,'' kata Firmasyah dengan Gubernur Bali Made Mangku Pastika di Kantor Gubernur Bali, baru-baru ini.

Dalam perbincangan tersebut juga terkuak, sejak lama pemerintah memikirkan betapa tidak nyamannya perjalanan wisata di Bali, jika lalu lintas di Pulau Dewata ini begitu padat. Banyak hal bisa terjadi. Mulai dari kemacetan, kecelakaan lalu lintas yang memakan korban turis asing, hingga peningkatan risiko stres masyarakat. Mengantisipasi hal tersebut, berbagai upaya telah dilakukan, di antaranya melakukan studi kelayakan dan survei angkutan umum.

Sayangnya, dari sejumlah studi kelayakan dan survei yang telah dilakukan belum ada yang menunjukkan hasil sebagaimana diharapkan, sehingga muncul pemikiran untuk mengintegrasikan studi kelayakan, perencanaan bisnis, perencanaan aksi, pembangunan hingga pengoperasian sarana transportasi agar studi kelayakan dan survei tidak terbuang tanpa ada tindak lanjut.

Gubernur Made Mangku Pastika mengatakan, pada prinsipnya sependapat dengan Dirjen Firmasyah. Karenanya, Gubernur setuju bila penandatanganan MoU dapat dilakukan secepatnya, karena kegiatan studi kelayakan baru dapat dilaksanakan setelah penandatangan MoU. Studi kelayakan itu sendiri diperkirakan memerlukan waktu antara 1 - 2 tahun.

Gubernur berharap, jika moda transportasi ini dikhususkan untuk pariwisata, maka moda ini harus dirancang semenarik dan seindah mungkin tanpa mengganggu nilai estetika orang Bali.

Ide untuk mengoperasikan moda transportasi kereta api lambat (kereta lelet), pernah muncul dan menjadi wacana hangat di Bali pada awal 2009. Muncul pendapat pro dan kontra dari kalangan masyarakat dan pemikir Bali pada saat itu. Namun, ide itu belum usai.

Kini, Kemenbudpar RI memiliki kepentingan besar membantu Bali menangani masalah lalu lintas, karena Bali merupakan ikon utama pariwisata Indonesia. Pada 2006-2007, instansi ini sudah melakukan survei panjang jalan rel kereta api lelet dan diperoleh data sementara sepanjang 565 km. Setelah itu, Kemenbudpar melakukan komunikasi dengan PT KAI hingga diperoleh data bahwa dana yang dibutuhkan sekitar Rp 6 triliun dan ongkos yang layak bagi setiap turis yang menggunakan jasa moda ini adalah 30 dolar AS sekali keliling Bali yang memakan waktu antara enam hingga delapan jam. (par)



Getting Bali on Track
Jakarta Proposes a Round Bali Slow Train System to Reduce Traffic Congestion.


Bali News: Getting Bali on Track
(11/26/2010) The Director General for Destination Development from the Ministry of Culture and Tourism, Firmansyah Rahim, is lobbying both the Bali and the national governments to built a rail system that will circumnavigate the island.

The proposal, delivered by Firmansyah to Bali's governor Made Pastika on November 25, 2010, is viewed as a means of overcoming the traffic congestion in Bali resulting from the burgeoning tourist trade and creating a more equitable distribution of visitors to all corners of the island. The tourism official told the press, "this suggestion represents a solution offering tourists a chance to take a train around Bali."

The proposed train would be of a special low-speed design.

The proposal, expected to receive the endorsement of Bali's governor, could quickly enter the design and feasibility phase. The Ministry of Culture and Tourism have put a preliminary cost estimate of Rp 6 trillion (US$652 million) and a proposed ticket price of US$30 for those selecting to ride the train.

© Bali Discovery Tours. Articles may be quoted and reproduced if attributed to http://www.balidiscovery.com. All images and graphics are copyright protected.
Post a Comment