Bali Promotion Center

Bali Promotion Center
Bali Promotion Center Media Promosi Online

November 17, 2010

Dirgahayu HUT Ke-1 Mangupura



HUT Mangupura Ke-1

Serahkan Rancangan Lambang Baru Ke DPRD

Bertepatan dengan HUT Mangupura Ke-1, Selasa (16/11) kemarin, Sekda Kab. Badung Kompyang R. Swandika didampingi Kabag Hukum dan HAM I Ketut Martha, SH dan Kabag Humas dan Protokol I Wayan Weda Dharmaja, S.IP, M.Si menyerahkan rancangan lambang daerah Kab. Badung kepada Ketua DPRD Kab. Badung Drs. I Made Sumer, Apt didampingi Sekwan DPRD Badung AA. Ngr Rai Sudharma, SH, MH.

Kompyang R. Swandika saat menyerahkan rancangan lambang daerah kepada Ketua DPRD menjelaskan sepintas pembaharuan yang terdapat dalam rancangan lambang daerah tersebut. Dalam lambang daerah yang lama terdapat padi berjumlah 20, tali berjumlah 9 dan kapas berjumlah 6 yang bermakna 20 September 1906 sesuai dengan hari perjuangan Puputan Badung. Dalam lambang yang baru jumlah padi, tali dan kapas berturut-turut berubah menjadi 16-11-09 yang mengartikan hari jadi ibu kota Mangupura 16 Nopember 2009.

Gambar Padmasana Pura Jagatnata yang di rangkaikan dengan lambang keris merah pun mengalami perubahan menjadi Meru Tumpang 11 dengan keris berwana hitam yang mengartikan ketegasan, kekuatan serta keteguhan. Kompyang R. Swandika juga menyampaikan harapannya kepada DPRD Kab. Badung untuk segera membahas rancangan lambang daerah baru tersebut bersama anggotanya agar dapat segera di sahkan menjadi lambang daerah Kab. Badung yang baru.

Ketua DPRD menyambut baik adanya penyesuaian yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah terhadap lambang daerahnya. I Made Sumer pun berjanji untuk segera menggodok rancangan tersebut dalam tahun ini juga.

Peringatan HUT Ke-1 Mangupura DKP Badung Gelar Bakti Sosial
Mangupura (Bisnis Bali) – Dalam Rangka Hut ke-1 Ibu Kota Kabupaten Badung, Mangupura, Dinas Kebersihan dan Pertaman (DKP) Badung melaksanakan kegiatan bakti sosial dan tatap muka dengan keluarga besar DKP Badung yang dilaksanakan di Wantilan Pura Lingga Bhuana Puspem Mangupraja Mandala, Jumat (12/11) kemarin.
Dalam sambutannya Bupati Badung AA Gde Agung mengatakan, kegiatan meningkatkan kesehatan dan kinerja keluarga besar DKP Badung merupakan salah satu tanggung jawab Pemkab Badung. DKP merupakan ujung tombak pemerintah dalam mewujudkan moto yaitu menuju Badung yang bersih, hijau dan berbunga (For Badung clean, spring, and green).
D ijelaskan, untuk menciptakan moto tersebut perlu penanganan yang terintegritas dengan memegang teguh kearifan lokal yang merupakan suatu norma yang saat ini masih relevan untuk menjadikan pedoman dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah melalui DKP Badung. Bupati berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk membangun Badung kedepan.
Kepala DKP Badung, Drs. I Putu Eka Merthawan, M.Si. dalam laporannya mengatakan, dalam rangkaian acara bakti sosial kali tersebut, DKP akan mengadakan pelayanan kesehatan gratis bagi anggotanya berupa pelayanan kesehatan reproduksi wanita pap smear yang diadakan di wantilan DPRD Badung bekerja sama dengan Yayasan Sehati, Rotari Club, dan Badan KBKS Badung. Pelayanan tersebut akan melayani 150 orang penyuluhan dan 20 orang pelayanan pap smear . Untuk pelayanan kesehatan mata telah melayani 348 orang dengan 3 orang operasi katarak.
Di samping pelayanan kesehatan gratis, DKP pun menyediakan pelayanan di bidang pendidikan berupa pendidikan kejar paket A, B, C setara SD, SMP, SMA secara gratis kepada keluarga petugas lapangan DKP Badung. Pelayanan pendidikan tersebut merupakan kerja sama DKP Badung dengan yayasan Widya Sentana Kerobokan Kaja.
Dalam kesempatan tersebut pula, Bupati Badung menyerahkan bantuan kepada tenaga kebersihan lapangan berupa pakaian kerja. Acara yang dihadiri 742 orang yang terdiri atas unsur kebersihan, pertamanan tersebut dihadiri pula oleh seluruh jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Badung. *sar

MANGUPURA telah dikukuhkan sebagai nama ibukota Kabupaten Badung. Penamaan tersebut pada hakekatnya tidak hadir begitu saja melainkan mengandung makna yang dalam sebagai bagian dari citra wajah Badung kedepan yang terbangun dengan sebuah komitmen tinggi untuk melangkah bersama masyarakat membangun Badung mewujudkan kesejahteraan dari duet kepemimpinan A.A. Gde Agung-Sudikerta

Sering menjadi ungkapan/pernyataan apalah arti sebuah nama, namun bagi beberapa bangsa di dunia esensi nama memiliki makna yang sangat dalam, dan merupakan identitas diri yang memperkenalkan jati diri suatu bangsa, bahkan menjadi trade mark bagi kelompok-kelompok masyarakat tertentu pada berbagai belahan dunia. Nama, juga dipercaya dapat memberikan berkah dan menjadi sebuah kebanggaan yang tidak ternilai harganya karena memiliki tradisi kultural yang kuat, memiliki kepercayaan dan loyalitas yang tinggi dalam mempertahankan identitas kulturalnya kepada setiap generasi penerusnya.

Nama bagi sebuah wilayah mengandung arti penting paling tidak dengan menyebutnya saja orang sudah akan tahu kemana arah tujuannya, Kabupaten Badung juga memiliki serangkaian cerita seputar nama. Menurut catatan sejarah awalnya Kabupaten Badung disebut dengan nama Nambangan sekitar akhir abad ke 18 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan. Nama Kabupaten Badung berasal dari Kerajaan Badung, kamus bahasa Indonesia mencatat ”Badung” artinya nakal atau Bandel. Badung juga merupakan salah satu pohon langka yang berada di Pulau Bali dimana pohon Badung ini sangat bermanfaat sebagai pelestarian lingkungan sehingga sering ditanam sebagai tanaman penyerap kotoran di udara dan berfungsi sebagai paru-paru kota.

Kini Kabupaten Badung telah memiliki ibu kota yang diberi nama Mangupura. Pemberian nama tersebut tidak ditetapkan secara asal-asalan tetapi melalui kajian-kajian berlandaskan adat dan budaya serta karaktereristik masyarakatnya, makna tersebut terkandung dalam kata Mangupura yang terbentuk dari dua suku kata yakni mangu (berasal dari bahasa Jawa Kuno) mango, lango, langu, dan langen yang artinya perasaan rindu menjadi terpesona oleh karena keindahan, segala sesuatu yang indah yang menimbulkan rasa cinta, serta keindahan, menawan hati, dan memikat, dan pura (dari bahasa sansakerta), yakni dari akar kata pur yang berarti kota, benteng, atau kota yang berbenteng.

Dengan demikian, Mangupura mengandung arti ibu kota yang menawan hati, ibu kota yang merupakan tempat keindahan, kedamaian dan kebahagiaan, ibu kota yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya, dan ibu kota yang menumbuhkan rasa aman bagi masyarakatnya. Sangat relevan dengan Kabupaten Badung, sebagai salah satu kabupaten harapan dan kebanggaan Bali yang diberkati Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan kekayaan alam yang eksotis mengantar Badung memiliki dua substansi keistimewaan yaitu pertama istimewa dalam sejarah yang ditandai dengan Puputan Badung, dan kedua istimewa dalam potensi yaitu pariwisata yang telah menobatkan Badung sebagai daerah tujuan wisata dunia.

Simak sejenak perjalanan Kabupaten Badung hingga ditetapkannya Mangupura sebagai jantung kota. Kabupaten Badung yang mempunyai motto Cura Dharma Raksaka yang artinya kewajiban pemerintah untuk melindungi kebenaran dan Rakyatnya. Secara fisik mempunyai bentuk wilayah menyerupai sebilah "keris", yang merupakan senjata khas masyarakat Bali. Keunikan ini kemudian diangkat menjadi lambang daerah yang merupakan simbol semangat dan jiwa ksatria yang sangat erat hubungannya dengan perjalanan historis wilayah ini, yaitu peristiwa "Puputan Badung". Denpasar pada mulanya merupakan pusat Kerajaan Badung, akhirnya pula tetap menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung.

Hingga terjadinya proses pemekaran Kabupaten Badung menjadi dua wilayah, yaitu Kabupaten Badung dan Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar (kini Kota Denpasar) yang pembentukannya ditetapkan UU No. 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar. Akibat proses pemekaran tersebut, di wilayah administratif Kota Madya Denpasar pada saat itu terdapat dua pusat kegiatan pemerintahan, masing-masing kantor Pemkab Badung dan kantor Pemerintah Kota Madya Denpasar. Kompleks Kantor Bupati dan Sekretariat Kabupaten Badung, di Lumintang, wilayah Kota Denpasar.

Seiring dengan berjalannya waktu terjadi kejadian luar biasa yang menghanguskan kompleks gedung pusat pemerintahan di Lumintang pada 21 Oktober 1999, sehingga praktis Pemkab Badung tidak lagi memiliki pusat pemerintahan. Agar roda kegiatan tetap berjalan, diputuskan untuk menyewa gedung Universitas Hindu Indonesia (Unhi) di daerah Tembau pada Januari tahun 2000 sebagai kantor sementara. Namun, pemanfaatan gedung UNHI itu tak berlangsung lama. Pada Tahun 2001 Kantor Bupati Badung dan sekretariat dipindahkan ke Balai Diklat Sempidi yang semula diperuntukkan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan.
Post a Comment