Bali Promotion Center

Bali Promotion Center
Bali Promotion Center Media Promosi Online

January 20, 2011

Penyakit Legionnaire: Kuman yang Doyan Spa

Kemarin saya membaca di running text sebuah stasiun TV adanya letusan kasus penyakit Legiun (Legionnaire’s disease) di Bali. Penyakit Legiun ini mirip sekali dengan penyakit mematikan pneumonia, namun disebabkan oleh bakteri berbeda, yang baru dikenali pada tahun 1977. Nama legionnaire ini pun diberikan mengacu pada kasus menghebohkan pada tahun 1976 dimana pada saat itu para legiun veteran AS mengadakan muktamar (convention) di suatu hotel di kota Philadelphia. Dalam waktu dua hari, sebanyak 221 peserta jatuh sakit dengan gejala seperti pneumonia dan 34 orang tewas. Kuman pendatang baru yang menggemparkan ini selesai diidentifikasi pada Januari 1977 dan diberi nama bakteri Legionella.
Bakteri Legionella ini tumbuh subur di air yang hangat (35 sampai 45 derajat Celsius) dan dalam kasus para legiun di atas, sumber penularannya berasal dari menara tangki pendingin (cooling tower) sistem AC sentral hotel berbintang tersebut. Bakteri yang nampaknya penggemar steambath dan spa ini, terbawa oleh uap air (mist and vapor) yang berasal dari radiator itu menyebar ke seluruh penjuru hotel. Dan begitu terhirup melalui hidung masuk ke dalam paru-paru, dalam waktu yang singkat dia akan menyebabkan pneumonia. Gejala yang menonjol adalah demam panas tinggi (40 derajat Celsius), menggigil, sakit kepala, nyeri otot, batuk kering dan kadangkala juga diare dan muntah serta mengigau (mental confusion).
Penyakit Legiun ini tidak bisa ditularkan antar manusia. Kita tertular penyakit ini bilamana menghirup uap air yang tercemar bakteri Legionella yang sumber terbanyak berada antara lain pada tangki pendingin AC sentral, pada kolam air hangat berputar (whirlpool) spa, shower air hangat, sistem air panas di rumah-sakit dan bahkan pada penyemprot air untuk kipas kaca mobil (windshield wiper). Mereka yang rentan terhadap penyakit Legiun ini terutama adalah para perokok, mereka yang berusia 65 tahun ke atas, dan penderita gangguan paru kronis seperti emphysema. Mereka yang sedang dirawat di rumah-sakit karena penurunan sistem kekebalan tubuh seperti kanker, diabetes atau gagal ginjal, dan penerima obat penekan kekebalan (pada pasien transplantasi atau kemoterapi) amat rentan dengan bakteri ini. Angka kematian penyakit Legiun di rumah-sakit bahkan mendekati 50 persen.
Sesungguhnya bakteri Legionalle ini dapat mengakibatkan dua jenis penyakit yang berbeda keganasannya, yaitu Legionnaire’s disease dan Pontiac disease. Meskipun mempunyai gejala yang mirip dengan penyakit Legiun seperti demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, namun pada Pontiac disease tidak terdapat peradangan paru akut (pneumonia). Tanpa pengobatan Pontiac disease ini akan sembuh sendiri dalam waktu 2-5 hari. Data penyakit Pontiac ini di Indonesia belum terekam, namun saya tengarai kasus ini cukup banyak, namun karena penyakit ini belum ’populer’, maka belum banyak didiagnosa oleh para dokter. Sedangkan untuk penyakit Legiun, menurut data epidemiologi di AS, menjangkiti sekitar 10.000 sampai 50.000 orang setiap tahunnya dengan angka mortalitas (kematian) sekitar 30 persen.
Pengobatan Legionnaire’s disease ini adalah dengan pemberian antibiotika levofloxacine (golongan quinolone) dan azithromycine (golongan macrolides). Dapat pula dikombinasikan dengan rifampicin untuk membunuh bakteri yang ada di jaringan paru-paru. Sedangkan untuk tindakan pencegahan (preventif) dilakukan dengan pengecekan secara berkala tangki pendingin AC sentral di hotel-hotel besar, hot tub (tempat mandi berendam air hangat), room air-humidifier (pelembab ruangan), air mancur dalam ruangan (indoor fountain) dimana lampu pencahayaan (lighting) yang terendam dalam air menjadi sumber panas bagi perkembangan-biakan bakteri Legionella ini. Juga yang tak kurang pentingnya adalah mewaspadai alat kedokteran gigi yang banyak mengeluarkan semprotan air seperti peralatan mengebor gigi, peralatan untuk membersihkan plak dan karang gigi.
Sebagian besar dari kita yang terpajan (exposed) dengan bakteri Legionella ini umumnya tidak akan mengalami sakit. Dan apabila kita berada dalam satu ruangan dengan orang yang terkena Legionnaire’s disease ini, juga tidak akan tertular, karena menurut penelitian tidak mungkin terjadi penularan antar-manusia. Inilah dua hal yang sedikit melegakan kita. Namun apabila sudah positif (dari pemeriksaan rontgen dan laboratorium) terdapat bakteri ini di dalam paru, maka harus segera diberikan pengobatan antibiotika yang tepat.

Jakarta, Pemerintah Australia telah memberitahukan pemerintah Indonesia bahwa ada warganya yang baru berwisata ke Bali dan terkena penyakit
legionnaire. Tapi dari hasil investigasi Kementerian Kesehatan belum menemukan adanya penyakit tersebut di Bali.

Australia memperingatkan soal penyakit legionnaire karena penyakit ini gampang sekali menular melalui udara. Penyakit legionnaire adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang dikenal sebagai bakteri legionella. Sebagian besar orang terkena penyakit legionnaire akibat menghirup bakteri tersebut.

"Pihak Australia menghubungi Indonesia bahwa ada laporan turis yang ke Bali terinfeksi penyakit legionnaire, tapi setelah diterjunkan tim untuk mengeceknya ternyata belum ada kasus penyakit legionnaire di Bali," ujar Prof Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan disela-sela acara Seminar Nasional dan Pameran Akselerasi Implementasi International Health Regulations (IHR) di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (19/1/2011).

Prof Tjandra menuturkan pihaknya sudah mengirimkan satu tim untuk melakukan pengecekan dan tidak ditemukan infeksi penyakit legionnaire tapi sudah dilakukan desinfektan. Lalu dikirimkan tim kedua untuk melakukan pengecekan kembali.

"Tim kedua yang dikirim baru kembali tadi pagi, jadi kemungkinan laporannya baru ada seminggu lagi. Tapi tetap dilakukan desinfektan di beberapa daerah," ungkapnya.

Prof Tjandra menambahkan di Australia sendiri sudah beberapa kali mengalami wabah penyakit legionnaire, diketahui dalam kurun waktu 5 tahun sudah terjadi belasan kali wabah penyakit ini.

"Sebagian besar orang yang terinfeksi penyakit ini bisa sembuh dengan baik, dan ini merupakan langkah konkret dari IHR (International Health Regulation)," ujar Prof Tjandra.

Orang yang sudah tua, perokok dan orang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sangat rentan terkena penyakit legionnaire ini. Penyakit ini biasanya berkembang antara 2-14 hari setelah terpapar bakteri legionella.

Gejala awal yang muncul biasanya sakit kepala, nyeri otot, panas dingin dan demam hingga 40 derajat celsius. Sedangkan pada hari kedua atau ketiga muncul batuk yang disertai lendir atau darah, sesak napas, dada sakit, lelah, kehilangan nafsu makan, mual, muntah serta rasa linglung.
 Happy New year 2011
Post a Comment