Bali Promotion Center

Bali Promotion Center
Bali Promotion Center Media Promosi Online

February 10, 2011

Bali Needs Living Museum

Denpasar (Antara Bali) - The Hindus' customs and religious traditions in Bali should be supported by a 'living museum', an area which collects various species of trees for religious rituals, an academician said here Tuesday.
"The plan is considered to be very strategic and urgent, as the local people and the Hindus in Bali remain carrying out rituals , but the materials for the rituals are  increasingly difficult to obtain," head of the tour guide study program of Hindu Dharma Negeri Institute (IHDN) Denpasar, Dr.I Ketut Sumadi, said.
He said the development of the living museum which is arranged beautifully in a wide area can be a new attraction which may interest foreign tourists who enjoy holidays in Bali. 
Such an effort should be made soon, considering the urgent need of such ceremonial stuffs as coconut leaves, coconut, flowers, leaves or bamboo which have been brought from other areas.
Such a condition makes the people and Hindus in Bali dependent on supplies from outside causing the ceremonies to become very expensive, Dr. Ketut Sumadi added.
He said every traditional village in Bali can build a living museum by utilizing the land of "pura laba", a plot of land jointly owned by residents in their respective areas so it can sustain the rituals of the people of the villages.
If the development can be realized, the Hindus will be able to perform the rituals with a practical and cheaper way.
The ancestors of Hindus in Bali had actually taught the concept of building a living museum through the ritual "Tumpek Bubuh", a ritual to honor the various species of vegetation.
According to Dr. Ketut Sumadi, the "Tumpek Bubuh" ritual is only to create new offerings hence its universal meaning and the practical matters for religious life have not been maximally applied.
However, there are few people with their own awareness making their land for raising medicinal plants, including trees for Hindu religious rituals.
Dr Ketut Sumadi saw the government programs of making Bali a green and clean province could also be done by developing various kinds of trees for ritual purposes.(*)

Bali Perlu Bangun "Museum Hidup"




Museum Antonio Blanco 

Denpasar (Antara Bali) - Kehidupan adat dan tradisi keagamaan umat Hindu di Bali perlu didukung adanya "museum hidup", yakni sebuah kawasan yang mengoleksi berbagai jenis pepohonan keperluan kegiatan ritual agama.

"Rintisan itu sangat strategis dan mendesak, mengingat  masyarakat dan umat Hindu di Bali tetap dan akan terus melaksanakan kegiatan ritual, namun 'upakara' atau bahan-bahan sesajen semakin sulit diperoleh," kata Ketua Program Studi Pemandu Wisata Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Dr I  Ketut Sumadi, MPar di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, pengembangan museum hidup yang tertata apik dalam sebuah kawasan luas dapat dikembangkan sebagai obyek wisata baru yang tidak kalah menarik bagi wisatawan mancanegara dalam menikmati liburan di Bali.
Rintisan itu penting dilakukan sejak dini, mengingat berbagai keperluan upakara, seperti janur, kelapa, bunga, daun, atau bambu  selama ini banyak mendatangkan dari luar daerah.
Kondisi demikian, katanya, menjadikan masyarakat dan umat Hindu di Bali memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan bahan upakara dari luar daerah, sehingga biaya upacara menjadi sangat mahal, ujar Ketut Sumadi yang meraih gelar doktor kajian budaya dari Universitas Udayana itu.
Ia mengingatkan, setiap desa pekraman (adat) di Bali bisa mengembangkan "museum hidup" dengan memanfaatkan tanah "laba pura", tanah milik warga bersama yang ada di wilayah masing-masing, sehingga mampu menopang kegiatan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat, maupun masing-masing desa pakraman.
Jika hal itu dapat direalisasi, umat Hindu akan dapat melaksanakan ritual dengan praktis dan murah. Para leluhur umat Hindu di Bali, sebenarnya telah mengajarkan konsep membangun "museum hidup" lewat ritual "Tumpek Bubuh", yakni kegiatan ritual untuk menghormati aneka jenis tumbuh-tumbuhan.
Menurut Ketut Sumadi, ritual "Tumpek Bubuh" baru diamalkan sebatas membuat sesajen, sehinga makna universal dan yang bersifat praktis untuk kehidupan keberagamaan belum diterapkan secara maksimal.
Meskipun demikian di Bali mulai ada beberapa orang dengan kesadaran sendiri menjadikan tanah miliknya sebagai lahan untuk tanaman obat-obatan, termasuk menanam pepohonan untuk keperluan kegiatan ritual keagamaan umat Hindu.
Ketut Sumadi menilai, program pemerintah untuk menjadikan Bali sebagai provinsi hijau dan bersih juga mengembangkan berbagai jenis pepohonan keperluan ritual.
Seluruh warga masyarakat wajib bertanggungjawab untuk memelihara tanaman hingga berhasil, sekaligus menyukseskan program penghijauan, harap Ketut Sumadi.(*)
 Happy New year 2011
Post a Comment