Bali Promotion Center

Bali Promotion Center
Bali Promotion Center Media Promosi Online

February 10, 2011

BANDARA BARU, MASALAH BARU

Pembangunan yang tidak merata menyebabkan terpusatnya pariwisata di Bali selatan utamanya di Kabupaten Badung dan Denpasar. Hal ini mungkin bisa sedikit disyukuri karena hanya sebagian wilayah Bali yang hancur akibat tidak terkontrolnya pembangunan infastruktur pariwisata.

Rencana pemerataan pariwisata dengan pembangunan bandara di Bali Utara banyak menimbulkan kontroversi. Bandara bertaraf internasional rencananya dibangun di wilayah Gerokgak, Buleleng. Bandara ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di Bali Utara. Mengurangi pengangguran dan kemiskinan karena akan menyerap tenaga kerja. Namun apakah pemerataan pariwisata mampu meningkatkan perekonomian Bali?


Bali yang menjadi barometer pariwisata Indonesia tidak pernah luput dari dinamika sebagai bagian yang harus dihadapi sebagai kenyataan. Bali sebagai tempat destinasi pariwisata, yang memiliki keunikan budaya dan alamnya menjadi surga bagi siapapun yang mengunjunginya. Tak hanya para pelancong, bisnis pariwisata yang sangat menjanjikan juga membuat orang-orang menanamkan modalnya di Bali. Hal itu membuat industri pariwisata semakin maju dan berkembang. Mulai dari pembangunan hotel-hotel berbintang hingga vila-vila bak jamur di musim hujan. Pinggiran sungai bahkan tebing pun mampu diubah menjadi tempat peristirahatan para tamu yang datang. Garis-garis pantai yang sebagian telah diprivatisasi membuat Bali seolah hanya disediakan untuk orang asing saja.


Ekonomi dan kesejahteraan masyarakat hanya menjadi kedok pemerintah untuk terus mengeksploitasi alam Bali. Pembangunan infrastruktur yang tidak mempertimbangkan stabilitas alam dan budaya, telah melunturkan keindahan Bali yang sesungguhnya. Daerah yang dulunya dihiasi oleh keindahan pantai dengat suasana sunset namun kini dikelilingi oleh bangunan hotel yang megah. Daerah yang dulunya memiliki areal persawahan yang luas dengan sistem terasering yang tiada duanya kini hanya sedikit yang tersisa. Subak yang berperan sebagai mengelola sistem irigasi dan pengairan sawah kini kian menghilang dibawa arus pembangunan pariwisata.


Industri pariwisata di Bali selama ini, semestinya mampu mensejahterakan masyarakat Bali. Namun nyatanya industri pariwisata kebanyakan dimiliki dan dikuasai oleh asing. Mulai dari jaringan hotel internasional, tour operator dan penerbangan. Sayangnya hanya sebagian kecil yang menetes ke penduduk lokal. Jika dilihat lebih dalam, penduduk lokal hanya disediakan menjadi sumber daya pariwisata. Misalnya saja pada bulan Agustus 2009 jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) di Bali mencapai 2.728.747 orang yang bekerja di sektor pariwisata, dengan angkatan kerja sebanyak 2.123.588 orang. Kebanyakan diantara mereka hanya menjadi pegawai hotel, restoran, artshop, dan sebagainya. Hanya sebagian kecil yang mampu secara mandiri mengais rejeki dari gemerlapnya pariwisata di Bali. Ini dapat dilihat dari kemiskinan penduduk Bali sampai akhir maret 2010 mencapai 174.930 penduduk. Bahkan 24.600 anak di Bali hidup terlantar sebagai anak jalanan (beritabali.com). Anak-anak yang biasa kita lihat menjadi gelandangan dan pengemis di Denpasar.


Pengembangan pariwisata jangan hanya memikirkan nilai jangka pendek saja. Jangan terhanyut dengan percikan dolar yang hanya dinikmati oleh sebagian orang yang memiliki modal besar. Namun akibat jangka panjang yang jauh lebih besar daripada nilai materi yang bersifat sesaat. Mengorbankan alam demi hasil yang belum tentu dapat dinikmati masyarakat Bali. Dengan dibagunnya bandara di Bali utara tentunya juga akan menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang sangat luar biasa. Perekonomian perkembangan dengan dominasi pemilik modal yang besar. Masyarakat Bali hanya akan tetap menjadi tenaga kerja pariwisata.


Buleleng sebenarnya bisa dioptimalkan sebagai kota pendidikan, perkebunan, dan kelautan. Mengingat Buleleng mempunyai salah satu dari tiga tempat penelitian ikan tuna yang ada di dunia tepatnya di daerah Gondol. Buleleng yang memiliki garis pantai sekitar 158,89 km atau 27% dari total garis pantai yang ada di Bali merupakan potensi yang harus dikembangkan secara optimal. Selain itu Buleleng juga masih banyak memilki potensi yang sangat bagus dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat seperti perkebunan. Misalnya saja wilayah timur, Tejakula, Kubutambahan dan Sawan yang memiliki sentra buah-buahan. Misalnya saja buah mangga dari dari desa Tunjung dan desa Depehe yang terkenal sampai ke Jawa dengan produksi enam ton per tahun. Produksi cengkeh, kopi, dan kelapa masing-masing mencapai 4.828 ton, 9.380 dan 9.225 pada tahun 2003. Serta daerah dataran rendah buleleng yang sangat potensial untuk pengembangan sapi potong.


Potensi tersebut bisa lebih dioptimalkan untuk meningkatkan ekonomi rakyat yang sesungguhnya. Hampir semua kegiatan ekonomi tersebut masih dimiliki oleh masyarakat setempat. Disinilah peran pemerintah sesunguhnya untuk membangun perekonomian rakyat (ekonomi mikro) bukan hanya sekedar menggembar-gemborkan keberhasilan ekonomi makro selama ini.


Beberapa sektor potensial itu selama ini masih dipandang sebelah mata oleh orang masyarakat utamanya generasi muda. Tidak banyak anak-anak muda melihat lautan yang luas serta hamparan pertanian yang luas sebagai potensi ekonomi. Pola pikir mereka lebih tergiur untuk menjadi pekerja pariwisata, pegawai negeri sipil dan sektor-sektor formal lainnya. Mengoptimalkan Buleleng sebagai kota pendidikan diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat untuk bisa memanfaatkan sektor potensial yang sudah ada.

Tidak hanya buleleng, dengan pembangunan bandara baru di Buleleng juga akan berdampak pada daerah-daerah di sekitanya. Daerah yang dulunya masih kental dengan budaya dan pertanian akan segera musnah beralih menjadi lahan-lahan pariwisata. Dampak sosial merupakan dampak yang lebih sistemik dari pengembangan pariwisata. Bali yang dulunya ramah dan hidup berdampingan akan menjadi masyarakat yang individualis. Pembangunan Bandara baru hanya akan menimbulkan masalah baru yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang timbul selama ini.

Oleh :
I Putu Hery Indrawan (mahasiswa jurusan Agroekoteknologi Universitas Udayana, Anggota GmnI cabang Denpasar)

 Happy New year 2011
Post a Comment